Ciomy

BANYAK YANG NIKAH, TAPI GAK SIAP JADI PASANGAN

Kategori

Durasi baca

Upload

Daftar Konten

“Dalam sebuah diskusi bersama CIOMY, pasangan Bang Hawa dan Dena Haura berbagi soal kesiapan menikah — dari efek domino keputusan kecil hingga pentingnya kepercayaan dan tanggung jawab”

Menikah kerap dibayangkan sebagai garis akhir, padahal justru di situlah rentetan tanggung jawab baru dimulai. Pesan itu mengemuka dalam sebuah diskusi bersama pasangan Bang Hawa dan Dena Haura, yang turut didukung oleh CIOMY. Keduanya, yang telah menempuh enam tahun pernikahan, menyoroti fenomena banyaknya orang yang siap menggelar akad tetapi belum benar-benar siap menjalani peran sebagai pasangan.

Bang Hawa mengibaratkan pernikahan seperti butterfly effect — satu keputusan kecil bisa memicu dampak besar yang beruntun. Ia mencontohkan kebiasaan sepele seperti begadang menonton serial yang berujung telat bangun, gagal presentasi, hingga kehilangan pekerjaan. “Semua hal besar dalam hidup kita, baik atau buruk, adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil,” ujarnya. Menurutnya, banyak orang hanya memikirkan efek langsung dari tindakannya, bukan efek dari efek yang terus merambat — sebagaimana perselingkuhan yang jarang terjadi tiba-tiba, melainkan lahir dari langkah-langkah kecil yang dibiarkan.

Dari perjalanan pernikahan mereka, Dena menyebut dua fondasi terpenting: kepercayaan dan tanggung jawab. Kepercayaan, katanya, menjadi asas yang menentukan apakah peran suami sebagai pemimpin dan istri sebagai pendamping dapat berjalan selaras. Sementara tanggung jawab adalah inti dari kehidupan rumah tangga — soal memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta kesediaan memikulnya tanpa banyak mengeluh.

Bang Hawa juga mengutip penulis The Subtle Art of Not Giving a F*ck, Mark Manson, yang menyimpulkan bahwa kebahagiaan justru tidak datang dari kebebasan tanpa batas, melainkan dari komitmen dan aturan yang dijalani dengan ridha. Dalam pandangan mereka, di sinilah keindahan Islam terletak: memberi kerangka yang jelas tentang peran, hak, dan kewajiban dalam berumah tangga.

Terkait pembagian peran, Bang Hawa menyederhanakan kewajiban nafkah seorang suami menjadi tiga hal: makanan yang layak, pakaian sesuai musim, dan tempat berteduh — bukan yang serba mewah, melainkan yang mencukupi. Adapun peran perempuan, kata Dena, adalah sebagai pendukung. Namun ia menegaskan bahwa istri tetap boleh bekerja untuk membantu keluarga maupun mewujudkan mimpinya, selama mendapat ridha suami.

Keduanya sepakat bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang diklaim, melainkan tumbuh dari rekam jejak dan dibuktikan lewat kejujuran. Kunci utamanya, menurut mereka, adalah kesamaan nilai — dan itu dibangun dengan belajar agama bersama. “Ketika kita punya value yang sama, akhirnya kita saling dukung, bukan saling menyalahkan,” pungkas Bang Hawa.